Bedanya Manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi

Sebelumnya admin sudah mejelaskan dalam artikel islami sebelumnya yaitu matematika dan teknologi dalam pandangan islam, dan sekarang admin akan menjelaskan bedanya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam blog kata motivasi islam. Ingin tau bedanya? Mari simak kata motivasi di bawah ini..

Manusia diciptakan Allah SWT dalam kejadian yang memiliki struktur sebaik-baiknya. Manusia merupakan ciptaan Allah SWT yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya, karena manusia dibekali akal, hati dan jasmani. Sehingga menjadikan manusia sebagai makhluk Allah yang paling tinggi derajatnya diantara makhluk-makhluk lain di alam raya ini. Berbekal akal fikiran tersebut, manusia mampu melaksanakan perintah Allah sebagaimana digariskan dalam agama. Dan mampu menjauhi segala larangannya. Juga mampu menciptakan ilmu dan teknologi.

Nabi pernah bersabda akal fikiran itu menyinari hati manusia yang dapat membedakan antara hal-hal yang bathil dan yang haq. Sehingga Iman seseorang belum memperoleh kesempurnaan dari agamanya sebelum menjadikan akal fikirannya sempurna. Sabda Nabi tersebut adalah;

Artinya: “Akal adalah cahaya yang bersinar di dalam hati yang dengannya ia dapat membedakan hal-hal yang benar dan hal-hal yang batil”

Manusia yang hakiki dalam pandangan Islam adalah manusia yang menyadari dirinya/statusnya sebagai ciptaan Allah dan menyadari serta mengaplikasikan tugasnya dihadapan Allah dalam bentuk ibadah. Sehingga manusia dengan segala potensinya tidak perlu ragu sedikit pun untuk mempelajari dan meneliti alam semesta. Sang Pencipta telah menyediakan segala sesuatu di alam ini untuk digali agar manusia sejahtera dan bahagia. Allah memberikan fitrah potensi kepada manusia untuk mampu membangun peradabannya. Dalam rangka mewujudkan suatu peradaban haruslah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi agar;

  1. Mampu meningkatkan kualitas hidup manusia.

Sebagaimana Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an yaitu;

“     Allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa, hingga mereka berusaha keras untuk merubahnya     ” (Qs, Ar-Ra’d:11 )

Ayat tersebut memiliki sifat dinamis, karena mengajarkan untuk selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas diri.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Qs. Al-Qashash:77)

  1. Mampu menjalankan fungsi manusia sebagai khalifatullah

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman bahwa;

“  Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”(Qs. Al-Baqarah: 30)

Dari ayat diatas dijelaskan bahwa manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah (pemimpin). Sebagai khalifah, kita memiliki tugas untuk melakukan pengaturan terhadap bumi dan seisinya agar kehidupan manusia dapat berjalan dengan baik. Di sinilah kita, umat Islam, dituntut memiliki kemampuan mengelola bumi dan isinya dengan mampu memahami, menguasai dan menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

  1. Mampu mengembangakan potensi fitrah

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Qs. An-Nahl:78)

Dari ayat diatas menjelaskan bahwa setiap insan manusia dilahirkan dari perut seorang ibu dalam keadaan yang bersih (suci), ibaratnya kertas putih tanpa noda.

Lebih lanjut Nabi SAW bersabda;

Tidaklah seorang anak itu dilahirkan, melainkan mempunyai fitrah Islam, maka orang tuanyalah yang mempengaruhi menjadi yahudi, nasrani, dan majusi”.

Hadist diatas menekankan bahwa fitrah yang dibawa semenjak lahir bagi anak itu sangat besar dipengaruhi oleh lingkungan. Fitrah itu sendiri tidak akan berkembang tanpa dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar. Sehingga konsep fitrah inilah menuntut agar ilmu pengetahuan dapat diarahkan kepada nilai-nilai Ilahiyah agar terjalin ikatan yang kuat antara manusia dengan Allah SWT.

Telah difahami bahwa manusia adalah makhluk berfikir (homo rationale), yaitu selalu mencari dan menyelidiki rahasia-rahasia ilmu yang terdapat dalam kandungan alam semesta ini. Dengan berfikir dan menyelidiki, manusia akan memperoleh ilmu pengetahuan yang makin dalam dan luas. Ilmu pengetahuan yang diperolehnya diharapkan akan bermanfaat bagi kehidupannya.

Seorang ahli fikir bernama Einstein pernah mengingatkan kepada kita bahwa “Science without religion is blind, religion without science is lame” artinya Ilmu tanpa agama akan buta, Agama tanpa ilmu akan lumpuh. Hasil kajian Einstein tersebut sangat jelas maknanya bagi umat beragama, bahwa agama merupakan pelita yang menerangi alam fikir, sedangkan ilmu merupakan pilar yang memberikan dukungan penyangga atau kekuatan.

Ilmu pengetahuan berkembang sejalan dengan proses kehidupan manusia yang terus berlangsung. Proses kehidupan manusia berjalan diatas nilai-nilai baik-buruk, benar-salah, halal-haram, dan sebagainya yang hasilnya akan dirasakan di alam akhirat kelak. Untuk mengetahi, mana nilai yang benar atau sesat, yang haq atau bathil, halal atau haram, yang membahagiakan atau yang menderitakan, manusia dianugerahi akal kecerdasan sebagai alat utama untuk menganalisis dan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan

Agama Islam bersumber dari wahyu Allah SWT sehingga memberikan dasar-dasar pedoman yang obyektif yang berlaku umum (universal) bagi seluruh umat manusia di muka bumi, sedangkan ilmu pengetahuan bersumber dari pikiran manusia yang disusun berdasarkan hasil penyelidikan alam. Ilmu pengetahuan bertujuan mencari kebenaran ilmiah yaitu kebenaran yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah.

Menurut ukuran nilai-nilainya bersifat transcendental. Artinya nilai-nilainya tidak hanya diukur menurut tuntutan hidup manusia di dunia semata, melainkan juga tuntutan hidup setelah mati. Antara nilai-nilai untuk kehidupan manusia sebagai hamba Allah dengan nilai-nilai di alam akhirat. Dengan demikian, jangkauan nilai-nilai agama itu jauh hingga mencapai kehidupan di alam abadi. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa apabila kita melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan, seperti telah ditetapkan dalam kitab suci-Nya, maka berarti kita merealisasikan ketentuan nilai-nilai hidup selaku hamba Allah. Dengan demikian, Allah akan memberikan balasan pahala yang mengandung nilai-nilai kebahagiaan di alam akhirat nanti.

Islam bukan hanya terbuka terhadap pembaharuan yang dilakukan ilmu pengetahuan, melainkan juga mendorong dicapainya kemajuan bidang tersebut. Dorongan ke arah penguasaan ilmu pengetahuan dapat dilihat dengan banyaknya firman Allah SWT yang menganjurkan manusia untuk memahami alam. Alam adalah ciptaan Allah yang menjadi obyek ilmu pengetahuan. Misal dapat kita lihat pada firman Allah dibawah ini;

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Qs. Al- Baqarah:164).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (Qs. Ar- Rum:22-23).

Islam dengan kitab suci Al-Qur’an mendorong umat manusia berfikir dan menyelidiki rahasia kebesaran Tuhan melalui sekitar 300 buah ayat kalimat-kalimat-Nya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ajaran agama demikian itu tidak lain adalah suatu agama untuk berilmu. Ilmu yang mendorong Islam adalah ilmu pengetahuan duniawi dan ukhrawi yang saat sekarang telah dijabarkan menjadi berbagai jenis ilmu pengetahuan seperti ilmu-ilmu yang termasuk kelompok sosial dan ilmu-ilmu natural (alam). Sedangkan yang dijadikan objek penelitian dan pengembangan ilmu-ilmu tersebut adalah diri manusia sendiri, baik orang perorangan maupun kelompok, serta kenyataan alam semesta yang penuh rahasia kebesaran Tuhan.

Sesungguhnya Islam bukan sebagai agama untuk akhirat semata, melainkan juga agama untuk peradaban umat manusia secara menyeluruh, yang mengandalkan kekuatan akal-budi untuk menghasilkan berbagai jenis ilmu pengetahuan. Islam mengajarkan tentang perlunya manusia mempergunakan akal kecerdasan untuk meraih kemajuan baik di dunia maupun di akhirat dengan berlandaskan ilmu pengetahuan. Nabi bersabda;

Artinya: “Barang siapa menghendaki hidup duniawi, haruslah dengan ilmu; dan barangsiapa menghendaki hidup ukhrawi haruslah dengan ilmu; barangsiapa menghendaki keduanya haruslah dengan ilmu”

Dengan demikian jelaslah bahwa semua bidang pekerjaan, profesi, dan keahlian, manusia wajib memperjuangkan demi kemajuan masing-masing bidang sesuai yang digelutinya, yang bertolak dari disiplin ilmu masing-masing. Demikian ini merupakan hakikat hidup di dunia, tanpa ilmu pengetahuan seseorang tidak akan dapat memperoleh puncak keberhasilan.

Islam memandang teknologi

Salah satu karakteristik Islam yang membedakan dengan ajaran lainnya adalah syumul. Islam adalah agama samawi yang menjamah seluruh aspek-aspek kehidupan. Sifatnya yang menyeluruh membuat tidak ada sudut sekecil apapun yang tidak dapat disentuh oleh nilai-nilai Islam. Begitu pula dengan teknologi, dalam hal ini Islam juga berperan besar dalam kemajuannya, pengembangannya, sampai pada pengawasannya. Salah besar jika kita meganggap teknologi bukan bagian dari Islam ataupun Islam tidak membahas mengenai teknologi.

Islam tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan seperti tafsir, hadist, fiqh, dan yang lainnya. Islam juga mencakup segala ilmu yang ada, mulai dari bakteri terkecil hingga pergerakan semesta alam melalui ilmu astronominya. Bahkan telah banyak ahli-ahli keilmuan Islam ataupun teori-teori ilmuan Islam yang menjadi dasar atau panduan bagi ilmuan-ilmuan Eropa. Namun tidak saat ini, Islam telah kehilangan ruh keislamannya, umat saat ini telah lupa akan hal ini, mereka terlalu sibuk memikirkan diri sendiri, memikirkan ibadah vertikal saja. Teknologi saat ini sudah tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman yang dulu dilahirkan para ilmuan kita. Bahkan sudah banyak kita lihat teknologi yang disalahgunakan manfaatnya dimana-mana.

Inilah permasalahan dalam dunia teknologi kita. Dimana dengan adanya teknologi justru menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan di sekitar kita. Hal ini terjadi saat teknologi telah keluar dari fungsi dan manfaat sebenarnya. Hal ini terjadi saat moral-moral para pembuat ataupun pengguna telah mengalami kemerosotan. Mereka terlalu tamak sehingga memakai teknologi sebagai alat pemuas mereka tanpa memikirkan dampaknya.

Sudah saatnyalah kita mengembalikan teknologi pada jalur yang sebenarnya. Jalur dimana Islam secara menyeluruh ataupun nilai-nilainya tertanam kuat dalam dunia teknologi kita. Sebuah Islamisasi ilmu dan pengetahuan kiranya dapat menjadi obat untuk permasalahan diatas. Bukanlah tidak mungkin untuk menerapkan sebuah konsep Islam dalam dunia teknologi bukan hanya sebagi pengerem kerusakan yang lebih banyak ditimbulkannya, tetapi juga demi terwujudnya kebangkitan umat islam.

Kunci utamanya terletak pada manusia-manusianya, pada kader-kader kita, pemuda-pemuda yang nantinya akan banyak berperan di bidangnya masing-masing. Diharapkan, kita tidak hanya mempelajari ilmu keduniannya saja, ilmu keilmiahan, teknologi, ataupun sejenisnya. Perlu pula sebuah pendalaman terhadap aqidah kita, perbaikan terhadap akhlak, serta ilmu keislaman lainnya secara menyeluruh. Ataupun sebaliknya, jangan sampai kita terlena, tersibukkan pada penghambaan diri kita kepada Yang Maha Esa sampai-sampai kita melupakan ilmu-ilmu yang akan bermanfaat bagi kemaslahatan umat di dunia.

Bukankah sebenarnya Islam dan Teknologi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pertama kali Islam diturunkan, telah tersirat jelas bahwa Islam juga menganjurkan umatnya untuk belajar, mempelajari apa yang ada di alam ini, dan memanfaatkannya demi kepentingan umat.

Semoga apa yang admin paparkan di dalam blog kata motivasi islam selama ini, dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sekalian.

Sumber dari : jus_ega.staff.ipb.ac.id

Advertisements
This entry was posted in artikel motivasi and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s